Share by : Andri Irawan
Sumber : Sinar Motivasi
Sumber : Sinar Motivasi
Baru-baru ini di Atlantic City – AS, seorang wanita memenangkan
sekeranjang koin dari mesin judi. Kemudian ia bermaksud makan malam
bersama suaminya. Namun, sebelum itu ia hendak menurunkan sekeranjang
koin tersebut di kamarnya. Maka ia pun menuju lift.
Waktu ia masuk lift sudah ada 2 orang hitam di dalamnya. Salah
satunya sangat besar . . . Besaaaarrrr sekali. Wanita itu terpana. Ia
berpikir, “Dua orang ini akan merampokku.” Tapi pikirnya lagi, “Jangan
menuduh, mereka sepertinya baik dan ramah.”
Tapi rasa rasialnya lebih besar sehingga ketakutan mulai
menjalarinya. Ia berdiri sambil memelototi kedua orang tersebut. Dia
sangat ketakutan dan malu. Ia berharap keduanya tidak dapat membaca
pikirannya, tapi Tuhan, mereka harus tahu yang saya pikirkan!
Untuk menghindari kontak mata, ia berbalik menghadap pintu lift yang
mulai tertutup. Sedetik . . . dua detik . . . dan seterusnya.
Ketakutannya bertambah! Lift tidak bergerak! Ia makin panik! Ya Tuhan,
saya terperangkap dan mereka akan merampok saya. Jantungnya berdebar,
keringat dingin mulai bercucuran.
Lalu, salah satu dari mereka berkata, “Hit the floor” (Tekan
Lantainya). Saking paniknya, wanita itu tiarap di lantai lift dan
membuat koin berhamburan dari keranjangnya. Dia berdoa, ambillah uang
saya dan biarkanlah saya hidup.
Beberapa detik berlalu. Kemudian dia mendengar salah seorang berkata
dengan sopan, “Bu, kalau Anda mau mengatakan lanantai berapa yang Anda
tuju, kami akan menekan tombolnya.” Pria tersebut agak sulit untuk
mengucapkan kata-katanya karena menahan diri untuk tertawa.
Wanita itu mengangkat kepalanya dan melihat kedua orang tersebut.
Merekapun menolong wanita tersebut berdiri. “Tadi saya menyuruh teman
saya untuk menekan tombol lift dan bukannya menyuruh Anda untuk tiarap
di lantai lift,” kata seorang yang bertubuh sedang.
Ia merapatkan bibirnya berusaha untuk tidak tertawa. Wanita itu
berpikir , “Ya Tuhan, betapa malunya saya. Bagaimana saya harus meminta
maaf kepada mereka karena saya menyangka mereka akan merampokku.”
Mereka bertiga mengumpulkan kembali koin-koin itu ke dalam keranjangnya.
Ketika lift tiba di lantai yang dituju wanita itu, mereka berniat
untuk mengantar wanita itu ke kamarnya karena mereka khawatir wanita
itu tidak kuat berjalan di sepanjang koridor. Sesampainya di depan
pintu kamar, kedua pria itu mengucapkan selamat malam, dan wanita itu
mendengar kedua pria itu tertawa sepuas-puasnya sepanjang jalan kembali
ke lift.
Wanita itu kemudian berdandan dan menemui suaminya untuk makan malam.
Esok paginya bunga mawar dikirim ke kamar wanita itu, dan di setiap
kuntum bunga mawar tersebut terdapat lipatan uang sepuluh dolar.
Pada kartunya tertulis: “Terima kasih atas tawa terbaik yang pernah kita lakukan selama ini.”



Post a Comment